Kisah
Dari tongkat pikul pelabuhan Pulau Pinang
"Nasi kandar" berarti nasi yang dipikul - dua bakul nasi dan lauk digantung di ujung tongkat kayu, dikandar di atas bahu.
Pada abad ke-19, Pulau Pinang tumbuh menjadi pelabuhan tersibuk di Semenanjung Tanah Melayu. Ribuan buruh bekerja memindahkan muatan kapal sejak subuh, dan mereka butuh sarapan berat yang cepat disantap. Di sinilah pedagang Muslim Tamil dari India Selatan masuk - mereka membawa kepandaian meracik rempah dan kari yang sudah diwariskan turun-temurun.
Setiap pagi, peniaga berkeliling pelabuhan memikul nasi dan lauk dalam bakul yang tergantung di kedua ujung kandar. Menu awalnya sederhana: nasi putih, kari ikan, ikan goreng, dan bendi. Sekarang, satu kedai nasi kandar bisa menawarkan puluhan pilihan kuah dan lauk - namun ritual intinya tidak berubah.
Nama kandar lama-lama melekat bukan pada tongkatnya lagi, melainkan pada hidangannya sendiri. Dari makanan buruh kasar, nasi kandar kini dinikmati semua kalangan di Malaysia - dan kami membawanya ke meja Anda, tetap dengan cara yang sama seperti dulu.